Ruang Tunggu adalah kumpulan puisi karya Ida Eria Nurwati yang memuat tema keluarga, rumah, rindu, dan momen-momen kecil kehidupan sehari-hari sebagai pusat perasaan. Melalui bahasa yang hangat dan sederhana, penyair mengajak pembaca menunggu—bukan pasif, tetapi sebagai ruang refleksi—menyimak kegembiraan, kehilangan, dan makna rumah serta hubungan keluarga. Cocok bagi pembaca yang menyukai…
Ada-Tiada, Tiada-Ada adalah kumpulan 88 narasi pendek bernuansa puitis yang merayakan beragam pengalaman cinta, kepekaan batin, dan kebijaksanaan hidup sehari-hari. Setiap narasi yang padat—serupa fragmen reflektif—mengajak pembaca berhenti mengingat, merenung, lalu kembali menatap hubungan antarmanusia dengan hati yang lebih lapang. Gaya penulisan lugas namun bernuansa sastra menjadikan bu…
Perempuan yang Membuat Air menghimpun puisi-puisi Moon Chung-hee yang dikenal sebagai suara perempuan Korea kontemporer — puitis, lugas, dan sering mengangkat tema kebebasan, kerinduan, kesepian, dan pergulatan identitas perempuan dalam masyarakat modern Korea. Edisi Indonesia hadir dwibahasa (Indonesia–Korea) sehingga cocok untuk pembaca sastra yang ingin menikmati teks asli sekaligus terj…
Buku Spiritualitas Sang Kala menghimpun puisi dan prosa singkat Kahlil Gibran yang menyingkap tema-tema batiniah: cinta, penghormatan terhadap kemanusiaan, pencarian makna hidup, dan kepekaan spiritual. Gaya Gibran — puitis, melankolis, penuh metafora — mengajak pembaca berpikir tentang hubungan antara jiwa dan dunia, tentang kehilangan dan harapan, serta tentang bagaimana nilai-nilai spiri…
Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus adalah kumpulan sajak utama Chairil Anwar (salah satu pelopor Angkatan ’45). Buku ini terbagi dua bagian: bagian pertama menampilkan puisi-puisi yang tajam, personal, dan sering menyelami tema eksistensi, kematian, kerinduan, dan pemberontakan batin; bagian kedua memuat puisi-prosa dan sajak yang kadang lebih naratif atau reflektif. Gaya bahasa C…
Buku ini berisi kumpulan puisi dalam bahasa Tegalan yang “menganyam tradisi” lokal menjadi ekspresi sastra modern, sebagai bagian dari usaha merawat dan menghidupkan kembali tradisi puisi Tegalan.
Wangsi Pesisir Tegalan menempatkan pembaca di tepian: ombak, sabak (garam), dan bisik bahasa Tegalan yang penuh teka-teki—bagian wangsalan menyimpan makna tradisi, bagian puisinya menyingkap rindu, kemiskinan, dan kelakar kehidupan pesisir. Bahasa lokal yang padat dan melodi Tegalan membuat tiap bait terasa seperti fragmen cerita kampung yang sekaligus universal — cocok untuk pembaca yang s…
Pada Bae' Asune adalah kumpulan wangsi / puisi karya Dwi Ery Santoso yang menegaskan kecintaan dan perhatian pada bahasa serta tradisi Tegalan. Dalam sekitar 79 halaman, pembaca akan menemukan puisi-puisi bernapas lokal — terbenam dalam dialek dan kearifan setempat — yang memadukan wangsalan (teknik permainan kata/tradisi puisi Tegalan) dengan ungkapan personal dan sosial. Kumpulan ini coco…
Setiap Kita Adalah kata Ada yang sekadar menatap Ada yang sehati menetap - Kang Maman Perempuan Jika Itulah Namamu merupakan kumpulan puisi yang dirangkap melalui ekspresi satu individu dengan kakasihnya. Keseluruhan karya dirangkai dengan ekspresi yang dalam, hangat dan penuh kasih. Setiap puisi dirangkap dengan bentuk tulisan yang variatif. Kesatuan buku "Perempuan Jika Itulah Namamu" menjadi…
"Antologi Wangsikur Begawan Cinta" adalah kumpulan puisi Tegalan yang menggambarkan kedalaman emosi dan keindahan budaya lokal. Puisi-puisi dalam buku ini menyentuh tema cinta, kehidupan, dan perjuangan, dengan menggunakan bahasa Tegalan yang khas dan penuh makna. Karya ini merupakan hasil kolaborasi antara dua sastrawan lokal, Lanang Setiawan dan Mohammad Ayyub, yang berkomitmen untuk melestar…