Text
Jaka Seger dan Rara Anteng (Asal Mula Nama Gunung Bromo)
Cerita Jaka Seger dan Rara Anteng adalah legenda rakyat dari Jawa Timur yang menceritakan asal-usul Suku Tengger dan Gunung Bromo. Legenda ini bermula dari dua bayi yang lahir dengan keunikan: Rara Anteng lahir tenang tanpa menangis, sementara Jaka Seger menangis sangat keras sehingga dinamai “seger” (segar). Ketika dewasa, mereka jatuh cinta dan ingin menikah, namun menghadapi rintangan dari raksasa sakti bernama Kyai Bima yang meminang Roro Anteng dengan ancaman penghancuran dusun jika ditolak. Roro Anteng menyusun strategi dengan meminta dibuatkan danau di Gunung Bromo dalam semalam—syarat yang akhirnya menyesatkan raksasa itu, karena warga menciptakan suasana pagi palsu hingga raksasa gagal menyelesaikan tugas sebelum ayam berkokok. Akhirnya Kyai Bima batal menikahi Roro Anteng, dan pasangan ini menikah serta membentuk Desa Tengger—nama yang berasal dari gabungan "Teng" (Anteng) dan "Ger" (Seger). Setelah itu mereka diberi 25 anak, dan semula lupa menepati nazar untuk mempersembahkan salah satunya ke kawah Bromo. Namun kemudian anak bungsu, Dewa Kusuma, rela dipersembahkan demi keselamatan desa. Sejak saat itu lahirlah tradisi Upacara Kasada setiap tanggal 14 bulan Kasada sebagai wujud penunaian nazar dan syukur masyarakat Tengger.
Tidak tersedia versi lain